TENTANG
KOTA LAWANG
Kota
Lawang terletak di koordinat 7°49'48"S 112°42'0"E,
atau 71 km di sebelah selatan kota Surabaya atau 18
km di sebelah utara kota Malang. Kota Lawang, yang berada
di ketinggian 450 m di atas permukaan laut, adalah kota
yang sejuk dan berpanorama indah dengan dikelilingi
oleh gunung-gunung seperti gunung Semeru, gunung Panderman
dan gunung Arjuna.
|map|
Berdasarkan hasil analisis karakteristik kawasan studi
merupakan pusat kegiatan masyarakat dengan intensitas
tinggi yang didominasi dengan kegiatan perdagangan dan
jasa, selain itu terdapat 84 bangunan kuno yang letaknya
menyebar dengan gaya bangunan empire style, art deco
dan neo klasik.
kawasan mulai mengalami perubahan pada masa penjajahan
Belanda (1767-1942) dan masa pasca kemerdekaan (1945-2008),
yang dipengaruhi oleh faktor ekonomi, politik, dan sosial
budaya. Berdasarkan dari analisis korelasi, diketahui
bahwa perubahan bangunan kuno dipengaruhi faktor usia
bangunan, kondisi bangunan, fungsi bangunan dan status
bangunan.
Kawasan pusat Kota Lawang
memiliki tingkat kegiatan yang meningkat selama beberapa
tahun dan dapat dinilai intensif dan teratur. Perkembangan
yang mencolok terlihat pada kawasan perdagangan, yang
berada di sekitar Pasar Lawang. Selain itu juga pada kawasan
jasa dan perkantoran yang beraglomerasi di sepanjang Jalan
Thamrin (ruas jalan arteri primer Surabaya-Malang). Sejarah
dan perkembangan Lawang tentunya saling berkaitan dengan
wilayah sekitarnya, seperti Singosari, Purwosari dan Kota
Malang. Semula Lawang merupakan kota kecil yang diperuntukkan
sebagai daerah peristirahatan dan perkebunan yang kaya
di Lereng Gunung Arjuno. Saat ini banyak sekali ditemukan
rumah-rumah berarsitektur kuno yang dulunya dipergunakan
sebagai rumah peristirahatan/villa yang diperkirakan berumur
lebih dari 50 tahun, dibangun pada tahun 1950-1960. Bangunan-bangunan
tersebut sebagian besar terletak di pusat Kota Lawang,
tepatnya di Kelurahan Lawang dan Desa Turirejo yang letaknya
menyebar.
Balai Pelestarian Peninggalan
Purbakala Trowulan menetapkan bahwa Hotel Niagara dan
beberapa rumah tinggal di Kelurahan Lawang merupakan cagar
budaya di Kabupaten Malang. Salah satu bangunan yang fenomenal,
yaitu Hotel Niagara, merupakan bangunan tertinggi pertama
di Indonesia yang berdiri sejak tahun 1911. Hotel Niagara
memiliki gaya arsitektur yang unik, karena keunikannya
pada tanggal 10 Februari 1990 foto-fotonya diikutkan dalam
pameran foto di Gemeente Museum Helmond, Belanda. Karena
kehadirannya mewakili berbagai gaya arsitektur di wilayah
Hindia Belanda (Kompas, 13 September 2001). Hotel Niagara
merupakan monumen bisu kejayaan Lawang, yang pada saat
itu Lawang menjadi sebuah basis perkebunan yang kaya.
Penggunaan lahan di kawasan
pusat Kota Lawang cenderung berkembang lebih pesat terutama
kegiatan perdagangan jasa dan permukiman. Selain kegiatan
perdagangan jasa dan permukiman, juga terdapat kegiatan,
perindustrian, perkantoran, pendidikan, dan ruang terbuka
hijau (RTH).
Usia bangunan kuno pada
kawasan pusat Kota Lawang berkisar antara 61 tahun hingga
di atas 81 tahun. Hal ini menandakan bahwa kawasan Lawang
mulai berkembang pada masa penjajahan Belanda pada awal
abad ke-19. Bangunan kuno termuda di kawasan, yaitu berusia
63 tahun yang didirikan pada tahun 1945 terletak di Jalan
Panglima Sudirman, sedangkan bangunan tertua, yaitu Stasiun
Lawang berusia 121 tahun, yang didirikan pada tahun 1887
terletak di Jalan Thamrin .
sebanyak 67 bangunan, milik pemerintah 11 bangunan, 6
bangunan milik yayasan. Bangunan-bangunan kuno milik pribadi,
sebagian besar diperoleh dari warisan, yang merupakan
peninggalan leluhur, bangunan-bangunan milik yayasan,
sebagian besar milik yayasan gereja yang di antaranya
dipergunakan untuk fasilitas umum, sedangkan bangunan
milik pemerintah, di antaranya sarana perkantoran dan
beberapa rumah dinas PT. KAI. Hal ini menandakan bahwa
kawasan Lawang pernah berjaya pada masa lalu (jaman kolonial/penjajahan
Belanda).
Sumber
: arsitektur e-Journal, Volume 1 Nomor 3, November 2008